Monday, 26 February 2018

Ku beranikan diriku tuk melangkah

Menuju keputusan terbesarku

Meninggalkan masa laluku

Yang senantiasa mengiring langkahku

Meninggalkan sesosok manusia

Yang sempat menigisi ke dalam gelapku

Seseorang yang begitu bersinar

Ku dambakan setiap waktu

Ku kagumi

Ketika ku harus melupakannya

Demi sebuah masa depan yang lebih pasti

Sejenak diam menatap awan keraguan

Meniti perlahan setiap pintasan jalan

Takut jatuh tertahan

Lalu melaju penuh keraguan

Bayangan kekecewaan mengikuti

Muncul sosok baru mengagumi diriku

Tak peduli aku padanya

Seolah dia tiada

Dia terus mengejar

Seakan menyuruhku meninggalkan masa lalu yang selalu ku dambakan

Dia teriakkan, dia berjanji

Dia mencoba menghentikan jalan keraguanku

apakah aku harus menyambutnya?

Atau tetap menaruh harapan pada masa lalu

Ketika ku harus mengambil keputusan sulit

Meninggalkanmu, melepaskan dan melupakanmu

Memudarkan semua yang pernah terjadi

Melunturkan setiap warna

Semua hanya ilusiku

Memudar bersama sang embun oleh sinar yang berpendar

Ku harus meninggalkanmu dalam sebuah tanda tanya

Meski ku tahu jawabnya

Aku akan bungkam saja

Daripada menyakiti hatinya

Sakit dan luka ini biar untukku saja

Terserah mau  bulang apa

Aku tak mengapa

Sudah terbiasa ku olehnya

Tertimbun dalam tumpukkan luka

Menggunung setiap harinya

Bahagialah oh cinta tanpaku

Lupakanlah diriku

Jangan lagi kau hiraukan aku

Ku kan pergi mengendap bersama angin pagi

Sebelum fajar pagi menyingsing

Aku pergi tanpa keinginan

Ku diam tanpa harapan

Ku tinggalkan semua kenangan

Jika ku harus pergi

Membayar semua yang kau ingini

Ku lakukan dengan senang hati

Cinta memang tak harus memiliki

Biarkan ku sendiri dengan hati yang t'lah tersakiti

Maaf ku harus meninggalkanmu

Asal kau tau ini bukan mauku

Melainkan demi kebaikanmu

Teruskanlah harapan dan anganmu

Ku kan selalu ada di belakanmu

Untuk menjadi pendukungmu




Sunday, 4 February 2018

Sakit itu ketika kamu ada didepannya
Tapi tak dilihat. Tak dianggap
Ketika semua orang hanya tahu bahagiaku
Tanpa mau tahu rasa sakitku
Ketika mereka menuntutku untuk tidak mengecewakan mereka
Tetapi mereka mengecewakanku
Aku menangis dalam diam
Aku tertawa dalam tangis
Aku menagis sendiri
Mereka yang hanya tahu bahagiaku bukan sahabatku
Mereka yang dengan begitu mudah meninggalkanku bukan sahabatku
Mereka yang tak menyadari rasa sakitku
Mereka yang tak menyadari tangisanku
Hanyalah mereka yang mengenalku dari luar
Bahkan mereka tak menyadari saat senyumku pudar 
Saatku hampir terjatuh menangis
Saatku benar-benar tak mampu berdiri 
Mereka tidak ada disampingku
Mereka dengan mudah melupakanku
Disaat aku bukan siapapun disini
Aku merasa kecil
Aku merasa rendah
Bahkan mereka yang Katanya Sahabat tidak mengenalku dengan baik
Aku butuh orang yang mengenalku luar dalam 
Mengerti aku
Hari yang seharusnya aku tersenyum
Tapi, aku menangis
Tak  ada sukacita
Hari ini semua orang tak peduli padaku
Tak hiraukan perasaanku
Sudahlah aku capek
Ketika dia bilang capek
Semua orang over perhatian
Ketika saatku capek, di ujung titik jenuhku mereka menyalahkanku
Aku memang tidak istimewa
Aku tidak cantik
Aku tak punya bakat
Aku bukan orang kaya?
Mengapa kalian tak hiraukan aku?
Dimana salahku?
Aku juga tidak ingin seperti ini
Aku juga ingin seperti kalian
Kamu diperhatikan banyak orang
Kamu dipuji sana sini
Aku bahagia karnanya
Disaat aku bahagia aku ingin bersamamu
Tapi kamu tak ada
Kamu tidak peka denganku 
Kamu terlalu over
Aku tahu kamu 
Kamu selalu bicara tentang kamu, kamu dan kamu 
Kamu egois
Aku kira kamu yang mengerti aku
Kamu ingin kamu selalu diperhatikan
Aku capek sungguh
Kalian seharusnya menjadi sahabatku
Tetapi bahkan disaat aku menangis kalian masih bisa tertawa
Aku bukan orang yang terbuka dalam kesedihanku
Aku menuntut orang peka terhadapku
Bahkan oarang lain yang ku kira tak mengenalku
Dia menanyakan kesedihanku
Aku memang selalu diam dalam sedih
Aku……….kecewa
Dengan manusia
Tuhan mengapa kau ciptakan rasa mengecewakan ini
Tuhan aku lelah

Setelah semua ini
Selesai rasa sakit ini
Aku belajar dan berjanji
Bahwa aku harus menjaga hatiku agar tak mudah terluka
Sungguh sakit rasanya
Seakan aku tak berharga dan layak 'tuk tersingkirkan
Ku akui aku menyukaimu
Dulu ketika aku menyukai seseorang
Aku memakai hatiku, seluruhnya
Tak pernah berkurang
Tapi setelah kulalui semua ini
Aku menangis dan merasa sakit
Sesak rasanya, bahkan membayangkannya aku tak pernah
Kini aku berjalan perlahan
Tidak sembarang menaruh seluruh hatiku
Ketika aku menyukainya
Aku berusaha untuk tak mengecewakannya
Dan dia selalu mengecewakanku
Lagi, bodohnya diriku, selalu memandangnya
Meski dalam diam
Banyak waktuku habisakan dalam kebisuan ruang
Sakit rasanya mengetahui perasaanku sendiri
Perasaan yang tak pernah kuungkapkan
Perasaan yang tak pernah terekspresikan
Bagiku semua lebih baik ketika aku diam
Memendam rasa dan sakit ini didalam hati
Daripada aku berekspresi tapi tak diakui
Jika aku dapat memilih kepada siapa ku menaruh rasa
Tak pernah ku coba tuk menaruh rasaku padamu
Perih selama ini kucoba bertahan, sendiri
Aku memang tak pernah bisa memilih kepada siapa aku jatuh cinta
Namun aku dapat memilih caraku untuk mencintai
Aku memilih untuk menintaimu dalam diam
Diam, Bungkam dan Sederhana
Negeri Para Penipu
Lihatlah, kan kupindah gunung itu
Percayalah, bahkan matahari pun tak pantas bersinar
Kalah dengan kilauan permata didasar
Pilihlah, kayu yang berdiri kokoh diantara sulur
Semua bisa berubah menjadi lebih baik
Perumahan kumuh ‘kan ku ubah menjadi gedung pencakar langit
Tak usah lagi susah, tak usah lagi repot
Aku akan menjadi tameng bagi kalian
Wahai rakyat negeriku….
Rakyat
Titik kecil yang tak dapat terangkai
Tercerai berai mengikuti kehendak diatas
Tunduk dibawah pimpinan yang berkuasa
Manusia lemah dan tak berdaya
Lalu…..
Pemimpin katanya
Lalu apa?
Sadarlah bahwa semua telah tuli
Demi omong kosong para pemimpin negeri
Mata telah dibutakan
Hanya oleh tumpukan uang
Pemimpin, katanya
Bangga jika telah mengambil uang rakyat
Pantaskah dirimu berdiri dengan segala kehormatan itu
Kekayaanmu adalah milik kami
Kami meringkuk dingin, Membungkuk lapar
Apalah daya kami?
Bahkan berbicara pun tak pantas
Kami terdengar seperti gonggongan anjing digelap malam
Yang layaknya diusir menjauh
Menyisakan para penipu
Masih banggakah kalian dengan mulut itu?
Mulut cabang dua, dengan segala kepalsuannya
Masih pantaskah kalian menyandang jabatan?
Seharusnya kalian malu
Pada alam yang telah menyediakan segalanya bagimu
Seharusnya kalian MALU !!!
Pada matahari yang senantiasa bersinar
Seharusnya kalian MALU !!!
Bahkan tersenyum pun tak pantas
Gantunglah saya jika saya mengambil uang rakyat!!!
OMONG KOSONG!!!
Sepeserpun tak akan pernah saya sentuh
Ya tak pernah kau sentuh
Hanya kau raup sebanyak-banyaknya
Lalu kau pakai semua untuk kenyamananmu
Bayangkan!!!
Disaat kamu menikmati kehangatan rumah megahmu
Kami meringkuk kedinginan ditemani sang hujan
Ketika kamu berangkat dengan mobil mewahmu
Kami merangkak mengais sampah
Masih berani kalian sebut diri kalian pemimpin ???
Sadar, uang itu milik kami !!!
Rumah itu kepunyaan kami !!!
Kenapa bahkan untuk secuil rotipun kami harus menerpa dinginnya hujan
Melawan panasnya mentari
Sedangkan kalian duduk dan menikmati
Masih pantaskah kalian duduk dibalik kursi
Jika seharusnya kalian berada dijeruji penjara
Oh, aku ingat lagi-lagi hal itu
Dibalik jeruji besipun kami tak rela
Kalian masih mendapatkan kehangatan, kemewahan bahkan kehormatan
Pantasnya kalian dibuang kedalam murka neraka
Sehingga kami dapat kembali memiliki semua milik kami
Tanpa harus mengais dan menangis
Itu milik kami


Dulu, bahkan sampai sekarang 
Aku tetap memandangmu, selalu
Entah engkau menganggapku atau tidak
Aku akan tetap melakukannya
Berusaha hingga sekarang
Aku menatap orang yang tak pernah menatapku
Mengejar seseorang yang tak pernah berhenti untukku
Seseorang yang selalu menghindar dan menjauh dariku
Aku selalu datang dan ada untukmu
Meskipun kamu juga selalu menolakku
Entah mengapa aku menyukaimu
Menyukai apa adanya dirimu
Menyukai, mengagumi, mencintai tanpa alasan
Entak mengapa pula aku memilihmu
Diantara banyak cinta disekelilingku
Hati dan intuisiku selalu tertuju padamu
Aku coba untuk melupakanmu
Tetapi selalu ada saja hal yang menarikku kembali
Pada kenangan masa-masa itu
Matamu, senyummu selalu terukir jelas dalam benakku
Kamu seseorang yang menjadi motivasiku
Kekuatanku tuk menjadi lebih berarti
Merubah diri ke arah yang lebih baik
Dalam diam ku menyukaimu
Dlaam senyum, ku mengagumimu
Dalam tangis, ku mencintaimu
Berapa banyak kata yang ingin ku tulis
Untuk mendefinisikan rasaku padamu
Namun tak akan pernah cukup
Kamu adalah sumber inspirasiku
You are my moodbooster

Awalnya kau datang dengan sejuta kejutan
Kehadiranmu membuatku berarti
Mewarnai embun dipagi hari
Kagum diriku akan sosok yang selalu hadir dalam setiap hembusan nafasku
Menemani disaat lelahku
Menghibur dikala sedihku
Seseorang yang telah lama kunanti
Hingga kedatangannya membawa angin harapan
Berhembus pelan membisikkan impian
Ku beranikan tanganku tuk menyentuhnya
Memimpikan harapanku bersamanya
Sejenak diam menjejakkan  kesunyian
Menemaniku dalam kesendirian
Terimakasihku kepadamu
Yang menemukanku dalam kehilangan
Mempertemukanku dengan hangatmu
Rasa yang hampir tiada
Telah menyala dalam gemerlap senja
Terbuai semua aku karenanya
Menginginkannya menjadi milikku sendiri
Lalu datanglah bergulung-gulung badai timur
Menyapu bersih semua yang berdiri tegap
Mengacak-acak segala yang telah tersusun
Pondasi harapan kini tlah hancur
Dia pergi bersama badai timur
Kembali ke titik awal dia dimulai
Meninggalkan kecewa yang membelai
Kemudian membekas, mengelupas
Ketika semua hanya menjadi kenangan yang tak pernah terselesaikan
Kamu datang membawa cinta
Lalu pergi meninggalkanku tanpa kata
Membiarkanku terjerembab dalam kecewa
Apa yang kau mulai tak pernah menjadi awal yang bahagia
Kini selesai dengan api yang menyala
Dendam membara, marah tiada tara
Beraninya kau pergi membawa rasaku
Dan tak pernah kembali
Datang hanya tuk mengambil segalanya dariku
Meninggalkanku dalam kegelapan
Kepahitan, kekecewaan dan kebencian
Sanggupkah aku bertahan?
Saat tak ada tangan yang menopang
Mampukah ku menemukanmu?
Menemukan kembali rasaku yang tlah hilang
Ataukah ku harus mengakhiri sampai disini
Melupakan semua yang pernah terjadi
Mengubur kenangan didalam hati
Meninggalkan bekas dalam sanubari
Tak pernah ada aku dan kamu lagi
Kecewa….

Kita berdua diantara kata yang tak terucap
Ku diam, kau pun diam
Namun kita saling memandang
Lewat mata kita saling bicara
Ada rasa yang membara
Ragu tlah melanda diri kita
Disaat kita mulai membuka bicara
Aku rindu berbicara denganmu
Ku lihat, begitupun kamu
Namun tak pernah datang keberanian untuk memulai
Entah sampai kapan ‘kan seperti ini
Sunyi senyap tak ada suara
Kita berdua diantara kata yang tak terucap
Memendam didalam dada sesak yang amat sangat
Aku malu untuk memulai
Terlalu takut untuk mengawali dan tak bisa mengakhiri
Kita berdua diantara kata yang tak terucap
Dengan mata yang saling menatap

Hallo, ini diriku
Seseorang yang lahir tanpa makna
Sehelai benangpun tidak
Hallo, diriku yang malang
Tak pernah terwujud apa yang kuinginkan
Bahkan hanya untuk menyentuhmu
Jemariku tak sanggup menggapaimu
Kamu melayang terbang tinggi diatas awan
Meninggalkanku sendirian di dalam lubang kesengsaraan
Menampung rasa ini sendirian
Hallo diriku, jangan menangis
Menjadi kuatlah, tetap tegar
Mungkin yang kau cinta telah bahagia dengan bidadari
Sedangkan kau disini menari dalam sepi
Lupakanlah wahai diriku
Kenangan masa lalu kelam yang menetap dalam benakku
Biarlah mereka hilang bersama angin
Sehingga beban dipundak boleh terasa ringan
Tersenyumlah, wahai diriku
Dunia indah dengan warna senyumanmu
Tak kan ada yang berubah tanpanya
Sungguh, dia hanya seonggok pria yang istimewa karna mendapat cintamu
Sadarlah, wahai ragaku
Dia bukan siapa-siapa
Tak sempurna pun istimewa
Dirikulah yang membuatnya indah
Dengan warna cinta yang mengharu biru didalammnya
Dirikulah yang membuatnya istimewa
Dengan ukiran indah dari raut wajahku
Bangunlah jiwaku, jangan biarkan dia mencuri rasamu
Ambil dan rebutlah cintamu
Berilah pada orang yang memiliki rasa pada dirimu
Hallo diriku, jangan menangis
Hello, hello menjadi semangatlah diriku
Memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan
Memiliki apa yang pantas kau miliki
Hallo diriku, bangun hapus air matamu
Lihatlah, bahkan kau lebih dari bidadari-bidadari itu
Saat kau mampu menyadari dirimu sendiri


Sangat menyakitkan rasanya
Kamu, yang dulu pernah menggapaiku
Menggenggam erat tanganku
Tak pernah kau lepas
Bagai sulur melilit tubuhku
Menggegam erat seluruhnya
Muncul angan dan khayalku
Terbang bebas membawa pikiranku tentangmu
Berharap kamu ada sebagai penjagaku, pelindungku
Tapi untuk apa?
Hanya harapan kosong
Ku arahkan tanganku keras-keras ke udara, hampa
Kenyataan, takdir berkata lain
Saat kulihat kau menggapai tangan lain
Tersenyum bersamanya
Disana aku berdiri, gentar
Menyaksikan semua
Nanar mataku, bergetar pondasiku
Semua anganku jatuh bersamanya
Ribuan anak panah melesat, cepat, tepat menusukku
Menjadi tak bermakna
Aku menyesal, aku menyesal
Oh, ibu pertiwi telanlah daku
Ambilah jiwa dan ragaku
Tak mampu lagi ku bertahan dengan semua ini
Pernah ku titipkan rasa ini padanya
Yang dengan mudahnya berpaling mencari yang lain
Aku menyesal
Oh ombak samudra, hanyutkanlah diriku
Bawalah aku ke samudra luas
Hilangkanlah duka dan lukaku
Aku menyesal benar-benar menyesal
Oh matahari, sinarilah diriku
Agar embun luka menguap dalam hatiku
Semua sia-sia
Hilang ditelan bumi
Hanyut bersama tenangnya samudra
Dan sirna ditengah terik sang mentari pagi
Cinta kasihmu telah pergi

Terkadang aku bingung terhadap sikapnya
Sesaat dekat, sesaat lagi menjauh
Aku juga tak tahu harus bagaimana
Hatiku menyukainya
Tetapi logikaku membencinya
Ketika diriku terbelah antara hati dan logika
Saat hati menguasaiku
Aku mampu memandangnya tersenyum
Tetapi saat logikaku mulai bekerja
Ragu menyergapku, aku menghindar
Aku ragu akan dirinya
Akan sikap dan kasihnya
Mata dan mulutnya memancarkan cinta
Namun perbuatannya tak nyata
Berikanku kepastian akan arti kehadiranmu
Haruskah ku menganggapmu lebih?
Atau sekedar orang bisasa yang tak pernah berarti
Iri diriku
Melihat orang-orang disekelilingku yang penuh cinta
sSedangkan aku penuh luka
Termenung aku dalam diamku
Dimana letak kesalahanku?
Jiak ini sudah menjadi garisku
Biarlah garisku terbujur indah diantara senja 
Menjadi sebuah pertanda akan rasaku padamu
Aku tau ini sulit
Tapi aku harus melakukannya
Aku harus memastikannya
Antara kau dan dia
Bagaimana tentang kalian?
Aku tau hidup ini bukan tentangku saja
Aku tak bisa egois meskipun aku ingin
Aku harus melakukannya meski dengan sakit
Aku tidak mau tinggal diam
Membiarkan semuanya hanyut dalam lautan kesalahpahaman
Kebahagiaanku ku pertaruhkan
Demi sebuah kebenaran
Aku tak bisa menikmati kebahagiaanku
Saat luka itu terus membayangiku
Antara kamu dan dia
Kamu berkata akulah satu-satunya
Kamu telah memilihku
Aku berterimakasih untuk itu
Dan ku tau kamu masih mengharapkannya
Kamu memilihku dan berharap padanya
Aku tersenyum meskipun sakit
Aku tertawa dalam tangisku
Aku merasa menemukan orang yang ingin ku temukan
Kamu…..
Aku tak pernah mengerti kamu
Sangat sulit bagiku memahamimu
Tapi selalu ku coba tuk mendalamimu
Kamu….
Tak pernah terbuka tentang hidupmu, masa lalumu, sakitmu
Kamu, menahan semuanya sendiri
Menyimpan dan menutup rapat semua rasamu
Dalam ruang yang tak dapat kusentuh, hatimu
Antara kamu dan dia, sempat ada rasa
Bodohnya diriku datang sebagai pihak ketiga
Dia mulai membenciku, mencaciku
Aku diam dalam kesunyianku
Merenungi kesalahanku
Banyak hal ingin kutanyakan padamu
Banyak rasa ingin kuungkapkan
Banyak sakit yang ingin ku ceritakan
Namun tak penah bisa
Aku tidak sanggup, tidak mampu
Maka aku memilih untuk diam
Menyimpan semua sendiri, jauh didalam sana
Menantimu untuk siap mengungkapkan semua rasa
Tanpa terpaksa
Dan semua tak perah terungkap
Hanya menjadi rahasia diantara kita
Antara kamu dan dia
Bisakah menjadi antara diriku dan dirimu?
Ini memang rumit
Aku tak mengerti, semua masih tersembunyi
Antara kamu dan dia, selalu ada dusta
Kenapa semua menjadi sulit bagiku?
Saat aku mulai merasakan rasa bahagia
Luka masa lalu datang kembali
Ijinkanlah aku bahagia
Bersama dengan seseorang yang dapat mewujudkannya
Terkadang rasa iri menyergapku
Melihat mereka tampak bahagia dengan hidupnya
Sedangkan diriku terjebak dalam ruang nostalgia
Haruskah kuambil kebahagiaan mereka?
Aku ingin melakukannya, tapi tak bisa
Aku selalu bepikir tentang kamu dan dia
Tak peduli betapa sakitnya aku
Aku tau ketika dia mencoba menjatuhkanku
Bukan sekali atau dua kali
Sebanyak yang dia bisa
Silahkan, aku masih sanggup
Aku cukup tau, cukup sakit dan terluka
Dan aku belum cukup bahagia
Aku bahkan tak pernah mencoba menemukan kebahagiaan itu
Kebahagiaan itu akan menghampiriku
Bahkan aku tak percaya
Jika aku diijinkan untuk merasakannya
Saat baru kukecap rasa bahagia itu
Seseorang dari masa lalumu kembali untuk mengambilmu dariku
Haruskah aku mempertahankannya atau mengembalikkannya
Dilema….
Pilihan yang ku ambil adalah diam
Lagi lagi diam
Adalah pilihan terbaik dan terakhirku
Jika memang dia tercipta untukku
Dia tak akan pernah bisa jauh dariku

Wednesday, 31 January 2018




















Nasi hitam tersuguh didepanku
Tak pernah menggugah selera makanku
Namun apalah dayaku
Hanya ini hasil keringatku
Alas tembikar tempat istirahatku
Dinding berbatu tempatku bersandar
Titik selalu menitik menjadi sebuah bulatan basah 
Jatuh dari pelupuknya membasahi seluruh pipi
Terasa sangat hangat saat menjalar perlahan
Tangis adalah musik hidupku
Cela dan hina telah kudapati
Bajuku terlucuti, mukaku terludahi
Terpacu ku berlari
Terseok ku berhenti
Peluhku 'tlah membanjiri
Emosi tak terhiraukan lagi
Kemanakah daku 'kan pergi
Membawa sejuta luka di dalam hati
Tersayat perlahan oleh belati
Tipi-tipis tapi tapis
Perih ku rasakan sendiri
Tiada 'kan peduli
Segala derita yang ku alami
Oh bumi telanlah daku
Bawaku ketempat terdalam dari gelapmu
Wahai langit, runtuhlah dan luluhkanlah jiwaku
Teriris hati ini oleh luka dan derita
Siluet hitam yang menikam
Malam datang dengan cepat dan mencekam
Membawa tubuh ini 'tuk pulang
Hampir saatnya hai daging tak berguna
Sebentar lagi, hanya sebentar lagi
Kau akan menjadi bermakna
Hidup aman dan bahagia bersamaNya

Sejengkal jarak diantara kita
Ada secuil rasa menyelinap
Antara aku dan kamu
Secuil rasa pahit
Ditambah sesendok rasa manis
Pahit manisnya rasa
Berpadu menjadi satu
Luka dan suka membaur
Tak terlihat layaknya asap
Sepoi angin lembut mngendap
Sejengkal jarak secuil rasa menyelinap
Mampu mengubah segalanya
Ketika dunia terasa hampa
Disana hati 'tlaj bertahta
Menjulang tinggi ke surga
Pahit manisanya rasa luka dan derita
Endapan kopi hitam tersisa 
Bumi bergetar, berrhenti berputar
Detik waktu tak kunjung menentu
Langit ketujuh seakan runtuh
Membiarkan sang bidadari menari indah
Melesat jatuh keangkasa raya
Bernyanyi merdu menyibak angin penjuru
Aroma manis menghilangkan luka
harum menutup segala derita
Memulihkan hati yang luka
Bintang mengendap malu
Saat angin menggerakkan 
Sang "secuil rasa"
Pahit manisnya cinta dan luka
Menangis saatdeburan ombak menghantammnya
Tertawa ketika dahan mulai menggelitiknya
Itulah pahit manisnya rasa
Jika memang ditakdirkan bersama
Sukaku kan meluruhkan segala dukamu
  1. Dalam sebuah bejana Cinta

Monday, 29 January 2018


Dia memang selalu dingin
Begitu dingin bahkan
Dan begitulah dia
Aku dapat menerimanya tanpa banyak protes
Aku ingin mencairkan hatinya yang tampak beku
Mencairkan hatinya
Bukan untuk ku miliki sendiri
Aku ingin dia merasakn hangatnya cinta
Tersebar penuh warna disekelilingnya
Menyadari bahwa warna-warni keindahan itu ada
Juga warnaku yang selama ini tak pernah disadarinya
Warnaku yang dulu kelam
Kini perlahan merekah
Bagai mawar merah ditengah semak atau pelangi disaat hujan
Bersamaan dengan terbitnya mentari
dan tak pernah terlambat bagai fajar 
Dia membawa rasaku seluruhnya
Aku ingin dia
merasakan hangatnya rasa
Termasuk rasaku yang masih tak berarti baginya

Saturday, 27 January 2018


Secantik apapun kupu-kupu itu
Aku akan membiarkannya berkeliaran
Ia akan lebih bahagia seperti itu
Meski itu berarti...
Aku tak dapat memilikinya
Karena dunia ini bukan tentangku saja
Tapi juga tentangnya
Tentang hidupnya
Rupanya aku tak pernah menyadari keberadaannya
Hingga aku kehilangannya
Tapi, adakah kehilangan itu?
Bagaimana bisa?
Sementara aku tak pernha memilikinya
Dan inilah yang dinamakan hampa
Ketika ku melihat sekeliling 
Tapi tak ada warna
Ketika ku mendengar semua
Namun tak satu pun yang dapat ku cerna
Aku tak menyadari
Ada cinta yang telah lama tumbuh
Kini hanya penyesalan
Tidak menyadari arti keberadaannya
Cinta itu datang bagai virus dalam diriku
Datang, melesat dan menyebar
Menginfeksiku seluruhnya
Entah baik atau tidak
Ini begitu menyesakkkan
Akankah aku mati karenanya?
Atau justru mati tanpanya
Cinta bukan hanya soal rasa
Namun sebuah makna
Yang mampu membuatku bahagia dikala luka
Tersenyum ditengah tangis
Berdiri tegak tanpa air mata
Semua Karena Cinta
Dimana engkau berada ???
wahai sosok yang telah menginfeksiku dengan virus itu
Lihatlah, senja mulai datang
Langit keemasan telah turun dikaki bukit
Mathari mulai lelah 'tuk bersinar
Digantikan oleh sang rembulan
Bahkan dia belum juga datang
Aku telah kehilangannya bahkan sebelum aku mampu menyentuhnya
Dia telah menghilang sebelum senja sepenuhnya hilang



Teringatku akan dirimu
yang hadir sebagai masa laluku
Hitam mengikuti jejakku
Menghantui setiap langkahku
Dalam bayangku kamu mengikutiku
Ku tak kan pernah bisa menepis
Dan memisahkan bayangmu
Kita menyatu
Meski bayanganmu menakutiku
Membuatku ragu 'tuk mengukir jejak baru
Tapi ku tak bisa selamanya bersembunyi dibalik bayangmu
Terimakasih untuk hitam yang kau gambarkan
Untuk goresan luka yang kau tanamkan
Ribuan panah telah melesat melewatiku
Masa lalu kelam menjadi bayangan yang menakutkan
Setiap maaf kau hempaskan
Setiap tetes tak kau hiraukan
Kini ku berusaha meninggalkan bayangan
Dalam gelap ku tak terbayang
Cahaya 'kan menuntunmu datang
Kita satu
Ku 'tak dapat mengusir bayangmu
Dimana kakiku berpijak
Disitu bayangmu beranjak