Monday, 26 February 2018

Ku beranikan diriku tuk melangkah

Menuju keputusan terbesarku

Meninggalkan masa laluku

Yang senantiasa mengiring langkahku

Meninggalkan sesosok manusia

Yang sempat menigisi ke dalam gelapku

Seseorang yang begitu bersinar

Ku dambakan setiap waktu

Ku kagumi

Ketika ku harus melupakannya

Demi sebuah masa depan yang lebih pasti

Sejenak diam menatap awan keraguan

Meniti perlahan setiap pintasan jalan

Takut jatuh tertahan

Lalu melaju penuh keraguan

Bayangan kekecewaan mengikuti

Muncul sosok baru mengagumi diriku

Tak peduli aku padanya

Seolah dia tiada

Dia terus mengejar

Seakan menyuruhku meninggalkan masa lalu yang selalu ku dambakan

Dia teriakkan, dia berjanji

Dia mencoba menghentikan jalan keraguanku

apakah aku harus menyambutnya?

Atau tetap menaruh harapan pada masa lalu

Ketika ku harus mengambil keputusan sulit

Meninggalkanmu, melepaskan dan melupakanmu

Memudarkan semua yang pernah terjadi

Melunturkan setiap warna

Semua hanya ilusiku

Memudar bersama sang embun oleh sinar yang berpendar

Ku harus meninggalkanmu dalam sebuah tanda tanya

Meski ku tahu jawabnya

Aku akan bungkam saja

Daripada menyakiti hatinya

Sakit dan luka ini biar untukku saja

Terserah mau  bulang apa

Aku tak mengapa

Sudah terbiasa ku olehnya

Tertimbun dalam tumpukkan luka

Menggunung setiap harinya

Bahagialah oh cinta tanpaku

Lupakanlah diriku

Jangan lagi kau hiraukan aku

Ku kan pergi mengendap bersama angin pagi

Sebelum fajar pagi menyingsing

Aku pergi tanpa keinginan

Ku diam tanpa harapan

Ku tinggalkan semua kenangan

Jika ku harus pergi

Membayar semua yang kau ingini

Ku lakukan dengan senang hati

Cinta memang tak harus memiliki

Biarkan ku sendiri dengan hati yang t'lah tersakiti

Maaf ku harus meninggalkanmu

Asal kau tau ini bukan mauku

Melainkan demi kebaikanmu

Teruskanlah harapan dan anganmu

Ku kan selalu ada di belakanmu

Untuk menjadi pendukungmu




Sunday, 4 February 2018

Sakit itu ketika kamu ada didepannya
Tapi tak dilihat. Tak dianggap
Ketika semua orang hanya tahu bahagiaku
Tanpa mau tahu rasa sakitku
Ketika mereka menuntutku untuk tidak mengecewakan mereka
Tetapi mereka mengecewakanku
Aku menangis dalam diam
Aku tertawa dalam tangis
Aku menagis sendiri
Mereka yang hanya tahu bahagiaku bukan sahabatku
Mereka yang dengan begitu mudah meninggalkanku bukan sahabatku
Mereka yang tak menyadari rasa sakitku
Mereka yang tak menyadari tangisanku
Hanyalah mereka yang mengenalku dari luar
Bahkan mereka tak menyadari saat senyumku pudar 
Saatku hampir terjatuh menangis
Saatku benar-benar tak mampu berdiri 
Mereka tidak ada disampingku
Mereka dengan mudah melupakanku
Disaat aku bukan siapapun disini
Aku merasa kecil
Aku merasa rendah
Bahkan mereka yang Katanya Sahabat tidak mengenalku dengan baik
Aku butuh orang yang mengenalku luar dalam 
Mengerti aku
Hari yang seharusnya aku tersenyum
Tapi, aku menangis
Tak  ada sukacita
Hari ini semua orang tak peduli padaku
Tak hiraukan perasaanku
Sudahlah aku capek
Ketika dia bilang capek
Semua orang over perhatian
Ketika saatku capek, di ujung titik jenuhku mereka menyalahkanku
Aku memang tidak istimewa
Aku tidak cantik
Aku tak punya bakat
Aku bukan orang kaya?
Mengapa kalian tak hiraukan aku?
Dimana salahku?
Aku juga tidak ingin seperti ini
Aku juga ingin seperti kalian
Kamu diperhatikan banyak orang
Kamu dipuji sana sini
Aku bahagia karnanya
Disaat aku bahagia aku ingin bersamamu
Tapi kamu tak ada
Kamu tidak peka denganku 
Kamu terlalu over
Aku tahu kamu 
Kamu selalu bicara tentang kamu, kamu dan kamu 
Kamu egois
Aku kira kamu yang mengerti aku
Kamu ingin kamu selalu diperhatikan
Aku capek sungguh
Kalian seharusnya menjadi sahabatku
Tetapi bahkan disaat aku menangis kalian masih bisa tertawa
Aku bukan orang yang terbuka dalam kesedihanku
Aku menuntut orang peka terhadapku
Bahkan oarang lain yang ku kira tak mengenalku
Dia menanyakan kesedihanku
Aku memang selalu diam dalam sedih
Aku……….kecewa
Dengan manusia
Tuhan mengapa kau ciptakan rasa mengecewakan ini
Tuhan aku lelah

Setelah semua ini
Selesai rasa sakit ini
Aku belajar dan berjanji
Bahwa aku harus menjaga hatiku agar tak mudah terluka
Sungguh sakit rasanya
Seakan aku tak berharga dan layak 'tuk tersingkirkan
Ku akui aku menyukaimu
Dulu ketika aku menyukai seseorang
Aku memakai hatiku, seluruhnya
Tak pernah berkurang
Tapi setelah kulalui semua ini
Aku menangis dan merasa sakit
Sesak rasanya, bahkan membayangkannya aku tak pernah
Kini aku berjalan perlahan
Tidak sembarang menaruh seluruh hatiku
Ketika aku menyukainya
Aku berusaha untuk tak mengecewakannya
Dan dia selalu mengecewakanku
Lagi, bodohnya diriku, selalu memandangnya
Meski dalam diam
Banyak waktuku habisakan dalam kebisuan ruang
Sakit rasanya mengetahui perasaanku sendiri
Perasaan yang tak pernah kuungkapkan
Perasaan yang tak pernah terekspresikan
Bagiku semua lebih baik ketika aku diam
Memendam rasa dan sakit ini didalam hati
Daripada aku berekspresi tapi tak diakui
Jika aku dapat memilih kepada siapa ku menaruh rasa
Tak pernah ku coba tuk menaruh rasaku padamu
Perih selama ini kucoba bertahan, sendiri
Aku memang tak pernah bisa memilih kepada siapa aku jatuh cinta
Namun aku dapat memilih caraku untuk mencintai
Aku memilih untuk menintaimu dalam diam
Diam, Bungkam dan Sederhana
Negeri Para Penipu
Lihatlah, kan kupindah gunung itu
Percayalah, bahkan matahari pun tak pantas bersinar
Kalah dengan kilauan permata didasar
Pilihlah, kayu yang berdiri kokoh diantara sulur
Semua bisa berubah menjadi lebih baik
Perumahan kumuh ‘kan ku ubah menjadi gedung pencakar langit
Tak usah lagi susah, tak usah lagi repot
Aku akan menjadi tameng bagi kalian
Wahai rakyat negeriku….
Rakyat
Titik kecil yang tak dapat terangkai
Tercerai berai mengikuti kehendak diatas
Tunduk dibawah pimpinan yang berkuasa
Manusia lemah dan tak berdaya
Lalu…..
Pemimpin katanya
Lalu apa?
Sadarlah bahwa semua telah tuli
Demi omong kosong para pemimpin negeri
Mata telah dibutakan
Hanya oleh tumpukan uang
Pemimpin, katanya
Bangga jika telah mengambil uang rakyat
Pantaskah dirimu berdiri dengan segala kehormatan itu
Kekayaanmu adalah milik kami
Kami meringkuk dingin, Membungkuk lapar
Apalah daya kami?
Bahkan berbicara pun tak pantas
Kami terdengar seperti gonggongan anjing digelap malam
Yang layaknya diusir menjauh
Menyisakan para penipu
Masih banggakah kalian dengan mulut itu?
Mulut cabang dua, dengan segala kepalsuannya
Masih pantaskah kalian menyandang jabatan?
Seharusnya kalian malu
Pada alam yang telah menyediakan segalanya bagimu
Seharusnya kalian MALU !!!
Pada matahari yang senantiasa bersinar
Seharusnya kalian MALU !!!
Bahkan tersenyum pun tak pantas
Gantunglah saya jika saya mengambil uang rakyat!!!
OMONG KOSONG!!!
Sepeserpun tak akan pernah saya sentuh
Ya tak pernah kau sentuh
Hanya kau raup sebanyak-banyaknya
Lalu kau pakai semua untuk kenyamananmu
Bayangkan!!!
Disaat kamu menikmati kehangatan rumah megahmu
Kami meringkuk kedinginan ditemani sang hujan
Ketika kamu berangkat dengan mobil mewahmu
Kami merangkak mengais sampah
Masih berani kalian sebut diri kalian pemimpin ???
Sadar, uang itu milik kami !!!
Rumah itu kepunyaan kami !!!
Kenapa bahkan untuk secuil rotipun kami harus menerpa dinginnya hujan
Melawan panasnya mentari
Sedangkan kalian duduk dan menikmati
Masih pantaskah kalian duduk dibalik kursi
Jika seharusnya kalian berada dijeruji penjara
Oh, aku ingat lagi-lagi hal itu
Dibalik jeruji besipun kami tak rela
Kalian masih mendapatkan kehangatan, kemewahan bahkan kehormatan
Pantasnya kalian dibuang kedalam murka neraka
Sehingga kami dapat kembali memiliki semua milik kami
Tanpa harus mengais dan menangis
Itu milik kami


Dulu, bahkan sampai sekarang 
Aku tetap memandangmu, selalu
Entah engkau menganggapku atau tidak
Aku akan tetap melakukannya
Berusaha hingga sekarang
Aku menatap orang yang tak pernah menatapku
Mengejar seseorang yang tak pernah berhenti untukku
Seseorang yang selalu menghindar dan menjauh dariku
Aku selalu datang dan ada untukmu
Meskipun kamu juga selalu menolakku
Entah mengapa aku menyukaimu
Menyukai apa adanya dirimu
Menyukai, mengagumi, mencintai tanpa alasan
Entak mengapa pula aku memilihmu
Diantara banyak cinta disekelilingku
Hati dan intuisiku selalu tertuju padamu
Aku coba untuk melupakanmu
Tetapi selalu ada saja hal yang menarikku kembali
Pada kenangan masa-masa itu
Matamu, senyummu selalu terukir jelas dalam benakku
Kamu seseorang yang menjadi motivasiku
Kekuatanku tuk menjadi lebih berarti
Merubah diri ke arah yang lebih baik
Dalam diam ku menyukaimu
Dlaam senyum, ku mengagumimu
Dalam tangis, ku mencintaimu
Berapa banyak kata yang ingin ku tulis
Untuk mendefinisikan rasaku padamu
Namun tak akan pernah cukup
Kamu adalah sumber inspirasiku
You are my moodbooster

Awalnya kau datang dengan sejuta kejutan
Kehadiranmu membuatku berarti
Mewarnai embun dipagi hari
Kagum diriku akan sosok yang selalu hadir dalam setiap hembusan nafasku
Menemani disaat lelahku
Menghibur dikala sedihku
Seseorang yang telah lama kunanti
Hingga kedatangannya membawa angin harapan
Berhembus pelan membisikkan impian
Ku beranikan tanganku tuk menyentuhnya
Memimpikan harapanku bersamanya
Sejenak diam menjejakkan  kesunyian
Menemaniku dalam kesendirian
Terimakasihku kepadamu
Yang menemukanku dalam kehilangan
Mempertemukanku dengan hangatmu
Rasa yang hampir tiada
Telah menyala dalam gemerlap senja
Terbuai semua aku karenanya
Menginginkannya menjadi milikku sendiri
Lalu datanglah bergulung-gulung badai timur
Menyapu bersih semua yang berdiri tegap
Mengacak-acak segala yang telah tersusun
Pondasi harapan kini tlah hancur
Dia pergi bersama badai timur
Kembali ke titik awal dia dimulai
Meninggalkan kecewa yang membelai
Kemudian membekas, mengelupas
Ketika semua hanya menjadi kenangan yang tak pernah terselesaikan
Kamu datang membawa cinta
Lalu pergi meninggalkanku tanpa kata
Membiarkanku terjerembab dalam kecewa
Apa yang kau mulai tak pernah menjadi awal yang bahagia
Kini selesai dengan api yang menyala
Dendam membara, marah tiada tara
Beraninya kau pergi membawa rasaku
Dan tak pernah kembali
Datang hanya tuk mengambil segalanya dariku
Meninggalkanku dalam kegelapan
Kepahitan, kekecewaan dan kebencian
Sanggupkah aku bertahan?
Saat tak ada tangan yang menopang
Mampukah ku menemukanmu?
Menemukan kembali rasaku yang tlah hilang
Ataukah ku harus mengakhiri sampai disini
Melupakan semua yang pernah terjadi
Mengubur kenangan didalam hati
Meninggalkan bekas dalam sanubari
Tak pernah ada aku dan kamu lagi
Kecewa….