Sunday, 4 February 2018

Negeri Para Penipu

Negeri Para Penipu
Lihatlah, kan kupindah gunung itu
Percayalah, bahkan matahari pun tak pantas bersinar
Kalah dengan kilauan permata didasar
Pilihlah, kayu yang berdiri kokoh diantara sulur
Semua bisa berubah menjadi lebih baik
Perumahan kumuh ‘kan ku ubah menjadi gedung pencakar langit
Tak usah lagi susah, tak usah lagi repot
Aku akan menjadi tameng bagi kalian
Wahai rakyat negeriku….
Rakyat
Titik kecil yang tak dapat terangkai
Tercerai berai mengikuti kehendak diatas
Tunduk dibawah pimpinan yang berkuasa
Manusia lemah dan tak berdaya
Lalu…..
Pemimpin katanya
Lalu apa?
Sadarlah bahwa semua telah tuli
Demi omong kosong para pemimpin negeri
Mata telah dibutakan
Hanya oleh tumpukan uang
Pemimpin, katanya
Bangga jika telah mengambil uang rakyat
Pantaskah dirimu berdiri dengan segala kehormatan itu
Kekayaanmu adalah milik kami
Kami meringkuk dingin, Membungkuk lapar
Apalah daya kami?
Bahkan berbicara pun tak pantas
Kami terdengar seperti gonggongan anjing digelap malam
Yang layaknya diusir menjauh
Menyisakan para penipu
Masih banggakah kalian dengan mulut itu?
Mulut cabang dua, dengan segala kepalsuannya
Masih pantaskah kalian menyandang jabatan?
Seharusnya kalian malu
Pada alam yang telah menyediakan segalanya bagimu
Seharusnya kalian MALU !!!
Pada matahari yang senantiasa bersinar
Seharusnya kalian MALU !!!
Bahkan tersenyum pun tak pantas
Gantunglah saya jika saya mengambil uang rakyat!!!
OMONG KOSONG!!!
Sepeserpun tak akan pernah saya sentuh
Ya tak pernah kau sentuh
Hanya kau raup sebanyak-banyaknya
Lalu kau pakai semua untuk kenyamananmu
Bayangkan!!!
Disaat kamu menikmati kehangatan rumah megahmu
Kami meringkuk kedinginan ditemani sang hujan
Ketika kamu berangkat dengan mobil mewahmu
Kami merangkak mengais sampah
Masih berani kalian sebut diri kalian pemimpin ???
Sadar, uang itu milik kami !!!
Rumah itu kepunyaan kami !!!
Kenapa bahkan untuk secuil rotipun kami harus menerpa dinginnya hujan
Melawan panasnya mentari
Sedangkan kalian duduk dan menikmati
Masih pantaskah kalian duduk dibalik kursi
Jika seharusnya kalian berada dijeruji penjara
Oh, aku ingat lagi-lagi hal itu
Dibalik jeruji besipun kami tak rela
Kalian masih mendapatkan kehangatan, kemewahan bahkan kehormatan
Pantasnya kalian dibuang kedalam murka neraka
Sehingga kami dapat kembali memiliki semua milik kami
Tanpa harus mengais dan menangis
Itu milik kami


No comments:

Post a Comment

Jangan lupa like dan komen ya, Juga bisa follow di puisipopuler07.blogspot.com, Terimakasih